23 Desember 2007

Oleh - oleh dari Negri Jiran

Alhamdulillah di awal November 2007 kemaren aku berkesempatan ato lebih tepatnya menyempatkan diri bwt berkunjung ke Negri Jiran Singapore, rencana awal sih hanya menghadiri acara Walimah teman yang berdomisili di Boon Keng Road , Singapore, karena undangan telah pun sampai di tangan, rasanya berat untuk tidak menghadirinya, aku ngebayangin seandainya nanti di saat aku yang mengundang untuk menghadiri acara Walimahku para undangan yang hadir sedikit pasti kecewa…
Walopun persiapan kurang matang baik dari segi kesiapan pribadi maupun keuangan,smua nya serba pas2an tapi aku tetep nekat untuk pergi juga…padahal tugas kuliah lagi amat sangat menggila minggu minggu ini,..

Akhirnya utk bisa pergi ke Singapore aku harus bekerja keras menyelesaikan semua tugas dahulu sebisanya, dan sisanya yang masih missing insyaAllah di lanjut setelah pulang nanti

Jadilah hari minggu pagi itu aku dan k’nova yang juga di undang bertolak ke pelabuhan International Batam Centre, walopun telat satu jam dr rencana awal karena telat boarding pass tapi Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Harbour Front , pelabuhan Singapore, setelah melewati perjalanan yang lumayan gak terlalu kerasa, karena memang Batam – Singapore cuma berjarak lebih kurang 20 Km dan menghabiskan waktu hanya sekitar 40an menit saja
Apalagi jika tadi kami pergi lewat pelabuhan Sekupang pasti akan lebih cepat lagi..
Turun dari ferry kami langsung ngantri untuk Proses keimigrasian..
Setelah proses imigrasi selesai tujuan pertama tentu saja ke Boon Keng Road, walopun sebenarnya diantara kami berdua gak ada yang tau pasti letaknya dimana,namun kami udah cukup yakin dengan hanya berbekal peta Singapore yang kami download dari internet seminggu yg lalu, dan itu pun tertinggal,hhee

tapi kami masih sedikit lega dengan mengantongi nomor ponsel teman yang berkewarganegaraan Singapore,tepatnya Agen kantornya k’nova yang di Singapore..

dari Harbour Front kami menggunakan jasa Taxi plus driver yang berpenampilan sangat klimis untuk sampai ke tujuan pertama
di sepanjang perjalanan yang terlihat hanya hamparan bangunan kotak – kotak yang menjulang tinggi ke atas,dengan pepohonan secukupnya berbaris rapi di sepanjang jalan, kesan yang terlihst adalah tata kota yang amat indah, bersih rapi…
perbincangan renyah dengan sang supir pun lumayan membuat kami terhibur setelah melewati perjalanan lintas dua Negara.

Acara walimah yang sederhana yang di adakan di kolong ( di bawah flat ) upper boon keng road siang itu cukup meriah, dengan hidangan khas melayu dan India terhidang yang pasti semua gak jauh – jauh dari makanan bersantan yang tinggi kolestrol, nasi briani yang menjadi cirri khas makanan Spore aku ambil secukupnya, ditambah ayam kare dan satu gelas air buah…standard..

Suasana Walimah di Spore agak sedikit berbeda dengan kita di Indonesia , dengan tempat yang jauh dari luas cukup untuk pelaminan, sedikit meja dan kursi, dan tempat menghidangkan makanan, tak jauh dari tempat makanan di hidangkan ada tenda untuk dapur, dan pastinya segala aktivitas dapur keliahatan oleh tamu..

Aku sama k’nova agak sedikit gak pede karena rencananya tadi di taxi kami mau mengganti sandal yang kami kenakan dengan sepatu tapi karena keasyikan ngobrol dengan supir taxi kami baru sadar kalo kami hanya mengenakan sandal kulit jepit hitam,mirip lagi hanya saja aku melapisi kaki ku dengan kaos kaki…

Hha.. pengen ketawa,,,Tina pengantin yang bersanding itu duduk dengan pakaian pengantin ungu, selaras dengan baju yang kami kenakan saat itu padahal gak niat buat nyama2in..kami memang blm pernah bertemu muka langsung dengan tina, selama ini kami hanya bekomunikasi lewat telpon,email,chating,webcame dan yang paling sering lewat handy talky ..

Setelah kami kira cukup, kami pun berpamitan,ekspresi haru terlihat di wajah Tina setelah tahu kalo kami adalah temannya dari Batam dan gak nyangka kalo kami bakalan hadir,dia m’perkenalkan kami dengan suaminya,setelah berfoto secukupnya dengan pengantin, berpamitan dengan orang tuanya dan mengambil bunga telor ( souvenir )

Kami langsung beranjak pergi,
tujuan selanjutnya mencari Mushala terdekat karena waktu zuhur udh lewat lumayan jauh…kemudian mau melanjutkan perjalanan ke Bugis Street yang di kenal sebagai the Largest shopping street in Singapore…hmmm..

udah keliling kompleks flat gak juga nemuin Mushala, terpaksa kami keluar kompleks
di halte ada seorang nenek2 cina yang lagi duduk, mau numpang nanya mikir dulu kira – kira nih nenek tau gak ya Mushala ato Mesjid terdekat dimana,karena tak ada orang slain nenek tersebut ahirnya kami memutuskan untuk bertanya padanya saja , pertama membuka pembicaraan k’ nova…

kami rada bingung dengan bahasanya, b.inggris dengan logat cina kental…
memerlukan keseriusan yang tinggi buat nyimak apa yang dia katakan, katanya kami disuruh jalan ke arah yang ia tunjukan kemudian 2 kali bus stop ketemu mesjid….

Tapi keterangan nenek itu gak cukup membantu, kami udah jalan cukup jauh tapi blm juga nemuin Masjid, tanda – tandanya pun gak ada,,,,,
Yang ada kami malah melihat rombongan pawai barongsai yang sedang menyeberang jalan,

Langkah kaki mengantarkan kami ke Kallang MRT Station, karena masjid belum juga ketemu, kami memutuskan untuk langsung ke Bugis Street dengan menggunakan MRT karena menurut keterangan yang kami dapatkan dari Information Center di Station MRT tersebut kalau di Bugis Street ada Masjid, lalu kami bergegas membeli MRT Card tujuan Bugis Street,di MRT Machine terpampang Electronic MAP, kami hanya menyentuh tulisan bugis street lalu keluar harga yang harus kami masukkan melalui tempat pemasukan uang,,dari Kallang ke bugis Street kami hanya mengeluarkan ongkos 90 cents per orang , siang itu MRT penuh sekali, jangankan tempat duduk kosong celah sedikit diantara penumpang yang berdiri saja tidak ada, tapi mau gak mau kami harus tetap naik,untunglah gerak MRT tidak seperti bus kota yang ada di Batam, setelah melewati Lavender station, station berikutnya adalah Bugis Station,,,kami pun lega..disaat turun kami berusaha menorobos kerumunan manusia, koq rasanya orang disini banyak sekali ya, apa mungkin karena wilayahnya kecil, dan manusia – manusianya yang banyak ya….

Di Bugis..tetap saja kami belum juga menemukan Masjid, sampai ahirnya ada muslimah yang melewati kami, karena yakin dia pasti orang melayu dan Muslim karena jilbab yang ia kenakan dan pastinya dia tahu dimana letak Masjid yang ada di sekitar sini,.

Setelah aku bertanya dengan ramah dia menjelaskan kepadaku bahwa di depan tak jauh dari Raffless Hospital ada Masjid Sultan.

Lega banged,,setelah mengucapkan terima kasih atas keterangan yang ia berikan kami pun sesegera mungkin meluncur kea rah yang dia sebutkan tadi, tetap dengan berjalan kaki, karena warga Singapore lebih senang berjalan kaki untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh,,walopun ternyata letak Masjid Sultan itu lumayan jauh juga.

Memasuki kawasan Masjid Sultan Singapore suasananya langsung brubah, suasana disini lebih adem aja,karena jauh dari keramaian dan lebih banyak terlihat warga muslim berseliweran, berbeda jika di banding tempat – tempat yang udah kita lewati tadi, banyak ABG yang berpakaian membuka aurat, kalau disini banyak ABG muslimah yang terlihat amat cantik dengan busana Muslim.

Awal masuk mesjid kami melewati tempat pengambilan air wudhu ihwan, sepertinya kami masuk bukan dari pintu utama, setelah bertanya pada orang yang ada di situ kami pun di tunjukkan toilet Akhwat, bersih…. Itulah kesan pertama yang bisa aku gambarkan dari tempat wudhu itu….

Masjid Sultan merupakan sebuah bangunan penting di Kampong Glam tepatnya terletak di Bussorah Street

Masjid ini di perkirakan berdiri sekitar tahun 1825 dan berusia sekitar 150 tahunan

dengan kapasitas lebih dari 5.000 umat Muslim saat Shalat .

Masjid Sultan memiliki kubah keemasan raksasa, dan merupakan salah satu institusi keagamaan paling mengesankan di Singapura.
menurut sejarah dahulu disini memerintah seorang Sultan yang bernama SultanAlauddi Shah,

Saat kami hendak masuk masjid jalan kami sempat terhalang oleh dua turis wanita berkebangsaan Tionghoa yang hendak masuk masjid, sepertinya mereka wartawan yang akan meliput tentang Masjid Sultan, karena baju yang mereka kenakan kurang sopan maka di depan pintu masjid seorang petugas memberikan mereka pakaian penutup aurat seperti jubah panjang dan lebar yang memang telah di sediakan untuk pengunjung seperti mereka.

Tempat akhwat di lantai dua, memang di lantai bawah di sediakan tempat shalat untuk wanita, namun di peruntukan kepada manula yang sudah tidak sanggup lagi menaiki anak tangga, hamper saja kami masuk ke ruangan itu, ternyata setelah membaca keterangan di depannya , kami langsung naik keatas

di dalam Masjid lebih di dominasi warna hijau dengan kombinasi kuning keemasan. Karena waktu Zhuhur sudah hamper habis tidak ada yang shalat jamaah, jadi kami memutuskan untuk shalat sendiri,

walopun sendiri kami berusaha shalat sekhyusuk mungkin apalagi berkesempatan untuk shalat di Masjid bersejarah seperti ini.

Dari jendela atas Masjid kami dapat melihat pemandangan yang sangat asri, deretan ruko yang sangat bersih, indah dan rapi …

Tempat itu disebut Bussorah Mall, di mana ruko-ruko yang telah direnovasi menjual berbagai pakaian, benda-benda antik, kerajinan, perabot serta perhiasan

Kalau terus ke Kandahar Street terdapat aneka citarasa masakan tradisional Melayu.

Selesai shalat kami memutuskan untuk menjelajahi Bussorah Mall, sambil menunggu waktu Ashar tiba, dari situ baru lanjut tujuan awal yaitu Bugis Street.

Hmm..sungguh pemandangan yang sangat asri menurutku, jauh dari keramaian, nyaman, pokoqnya Subhanallah deh,

Tapi kebanyakan barang – barang yang di jual disini juga barang – barang made in Indonesia, seperti batik dan kerajinan tangan lainnya..

tak lama azan Ashar berkumandang...( to be Continue......)